Thursday, November 17, 2016

Life Mapping


Nama : Anavira Nuravita
NIM : 165150407111030
Prodi : Sistem Informasi
Kelompok : 7
Cluster : 17

Indonesia Emas 2045

Nama     : Anavira Nuravita
NIM      : 165150407111030
Prodi    : Sistem Informasi
Kelompok : 7
Cluster  : 17



Dalam memperingati atau merayakan 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 2045, Indonesia memiliki sebuah rencana atau target yang disebut “Indonesia Emas 2045”. Rencana besar tersebut memiliki tujuan bahwa Indonesia mampu berdiri sebagai negara yang jauh lebih maju dari saat ini. Lebih maju ini berarti lebih baik bila ditijau dari berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi segi ekonomi, sosial, teknologi, dan segi-segi lainnya. Indonesia Emas menggambarkan Republik Indonesia yang cerdas, berkarakter, mandiri, makmur, modern, dan hal positif lainnya.

Seluruh warga negara Indonesia memiliki tanggung jawab dalam memperjuangkan rencana besar Indonesia di tahun 2045 tersebut. Warga negara Indonesia perlu memiliki kesadaran yang tinggi bahwasanya 100 tahun kemerdekaan yang telah diraih itu merupakan buah dari usaha terbaik dan usaha yang tentunya sangat besar dari para pahlawan saat dahulu kala. Dengan adanya kesadaran tersebut, warga negara Indonesia sebagai penerus bangsa tentu saja dapat termotivasi atau lebih semangat lagi dalam meraih gelar Indonesia Emas.



Ditinjau dari banyak hal, Indonesia Emas 2045 dapat menjadi sesuatu yang mungkin atau bahkan sangat berpotensi untuk tercapai. Meskipun memang terdapat cukup banyak permasalahan-permasalahan pada Indonesia yang masih menjadi pembatas atau penghalang untuk Indonesia agar lebih maju lagi, bukan berarti Indonesia Emas tidak akan terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semuanya bisa terjadi. 

Menurut Biro Pusat Statistik (BPS), Indonesia saat ini memiliki jumlah penduduk berusia muda yang lebih banyak daripada penduduk yang berusia tua. Terdapat 45 juta jiwa yang berusia 0-9 tahun dan itu berarti pada tahun 2045 akan berusia 35-45 tahun. Kemudian terdapat 43 juta jiwa yang berusia 10-19 tahun sehingga pada tahun 2045 akan berusia 45-54 tahun. Dengan demikian, hal tersebut menjadi latar belakang dari munculnya identitas generasi emas. Identititas generasi emas ini maksudnya adalah generasi yang akan menjadi penerus bangsa. Hal ini berarti generasi emas tersebut lah yang akan memegang peranan penting dalam mengejar Indonesia Emas.

Biro Pusat Statistik (BPS) juga memiliki data yang memuat sebuah fakta bahwa peningkatan terus terjadi pada jumlah usia muda dari tahun ke tahun. Contoh yang jelas adalah pada tahun 2005 terdapat 93.865.303 jiwa yang berusia 15-39 tahun, dengan begitu terjadi peningkatan menjadi 100.418.626 jiwa pada tahun 2010. Bukti yang lebih jelas lagi adalah pada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Badan Perencanaan Pembangunan Nasional memprediksikan bahwa akan terdapat sekitar 305,6 juta jiwa pada tahun 2035 mendatang, sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan terjadi sebesar 28,6% dari tahun 2010. Pada tahun 2010 sendiri terdapat 237,6 juta jiwa. Pada tahun 2010, terdapat 66,5% yang merupakan penduduk dengan usia produktif. Pada tahun 2028-2031, terus terjadi peningkatan yang mencapai sampai 68,1%. Peningkatan jumlah penduduk yang berusia produktif ini tentunya berpengaruh pada suatu hal yang penting. Hal tersebut adalah terjadinya penurunan pada angka ketergantunga. Penurunan tersebut terlihat jelas dengan adanya sebesar 50,5% jumlah penduduk yang tergolong berusia tidak produktif yang ditanggung oleh 100 orang penduduk usia produktif pada tahun 2010 berubah pada tahun 2028-2031 menjadi sebesar 46,9%. Walaupun terjadi penurunan, angka ketergantungan mulai meningkat kembali dari yang sebelumnya 46,9% kemudian pada tahun 2035 menjadi sebesar 47,3%. Banyaknya jumlah penduduk yang berusia produktif tersebut memiliki potensi untuk menjadi sebuah bonus demografi yang sangat berharga. 

Peningkatan jumlah penduduk di dunia yang semakin pesat menyebabkan demand atau permintaan kebutuhan meningkat sedangkan supply atau persediaan kebutuhan menurun. Demand yang terus meningkat dan supply yang terus menurun menyebabkan sumber kebutuhan pokok menjadi sebuah rebutan. Penurunan persediaan kebutuhan juga dapat dilihat dari terjadinya perang-perang di Irak, Iran, Kuwait, Suriah, Mesir, Sudan, Yaman, Nigeria, Ukraina, dan Kongo. Permasalahan tersebut menyebabkan efek negatif yaitu energinya tidak dapat diperbaharui. Namun jika ditinjau dari sisi positifnya, energi tersebut justru dapat digantikan. Inilah yang dapat menjadi sebuah keuntungan bagi negara Indonesia sebagai negara yang berada di garis khatulitistiwa atau garis ekuator. Garis khatulistiwa ini membagi Bumi menjadi dua bagian belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Dengan berada di garis ekuotor tersebut, sumber energi yang terbaru pun dapat ditemukan dengan mudah. Dari segi geografis pun Indonesia memiliki keunggulan berupa daratan dan lautan yang luas. Indonesia juga merupakan sebuah negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Soekarno, “kekayaan alam Indonesia suatu saat dapat membuat iri negara-negara dunia”. Hal ini lah yang dapat menjadi sebuah potensi besar bagi negara Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas pada tahun 2045 nanti. Kekayaan alam merupakan salah satu kunci dari masa keemasan tersebut. Hanya saja warga negara pun harus menjaga dan melestarikannya agar tidak menjadi hal yang sia-sia.

Sejak tahun 2005, pemerintah telah mempersiapkan perangkat aturan untuk mencapai tujuan dari Indonesia Emas 2045. Inilah alasan mengapa pemerintah juga sangat berperan penting dalam mencapai Indonesia Emas 2045. Persiapan yang dimiliki pemerintah bahkan telah disediakan selama kurang lebih 40 tahun sebelumnya. Persoalan waktu tidak perlu diragukan lagi. Persiapan tersebut berupa adanya undang-undang Pendidikan Nasional dan undang-undang Guru dan Dosen. Salah satunya dapat dilihat dengan ditetapkannya aturan tentang PAUD dan memberlakukannya di seluruh pelosok negeri. Pendidikan di PAUD memiliki dasar yang bercorak tentang pembangunan karakter dan budipekerti yang berdasarkan budaya serta kearifan lokal. Sistem pendidikan tersebut memiliki tujuan agar dapat membangun mental yang kuat dan tangguh yang dimiliki seluruh anak-anak bangsa dengan dimulai dari tingkatan pendidikan yang terendah. Dari PAUD tersebut berlanjut ke TK kemudian ke SD kemudian ke SMP kemudian ke SMA dan berkesinambungan ke jenjang berikutnya. Pada seluruh jenjang-jenjang tersebut, sistem pendidikan yang dimilikinya tetap mendapatkan pengajaran tentang pendidikan yang berbasis karakter, budipekerti, budaya, dan kearifan lokal. Dengan begtu, upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menciptakan sebuah kurikulum yang dikenal dengan Kurikulum 2013, kurikulum tersebut memiliki sebutan sebagai “Kurikulum Kecakapan Hidup”.

Bila ditinjau dari segi demografis, Indonesia pun memiliki Pancasila. Dilihat dari apa yang terjadi saat ini, Indonesia memiliki permasalahan dimana bangsa Indonesia itu sendiri kehilangan jati diri bangsa. Negara Indonesia dan bangsa Indonesia beserta rakyat di dalamnya mengalami kebutaan akan jati diri yang dimilikinya sendiri. Dengan adanya permasalahan tersebut, rakyat Indonesia perlu ditanamkan kembali nilai-nilai Pancasila. Yang paling perlu ditanamkan nilai-nilai Pancasila tersebut adalah anak-anak yang kelak akan menjadi calon penerus bangsa. Jika seluruh rakyat Indonesia dapat bersungguh-sungguh dalam hal tersebut, sila ke-5 yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia secara otomatis pasti akan dapat diraih kembali. Jika nilai-nilai Pancasila dapat dijadikan sebagai pedoman dalam hidup, maka penduduk Indonesia akan memiliki kualitas yang kuat dalam bekerja dan juga keahlian-keahlian lain yang dapat menunjang kelangsungan hidupnya. Semakin banyak penduduk yang memiliki kualitas baik dalam hidupnya, semakin maju juga negaranya. Dengan demikian, Indonesia Emas 2045 pun dapat diwujudkan.